Masalah itu masih berlanjut sampai
sekarang. Aku seorang Ovi, yang masih mengharapkan cinta seorang Yudha.
Perlahan melepasmu adalah hal yang paling berat saat ini. Apalagi ketangan
orang lain. Tapi, sebagai individu yang perseptif, kamu bisa melihat diriku
yang sesungguhnya. Aku tak berdaya terhadapmu. Pahamilah analogiku.
Aku pernah bilang pada Caca “Sudah, ga’ apa. Ambil saja…” walaupun sesungguhnya menusuk.
Caca mungkin berpikiran, apakah aku sudah
ikhlas melepas Yudha? Tentu jika boleh menjawab, aku jawab TIDAK.
Kamu pemuda berambut pendek, bersenyum
menawan dan matanya bersinar. Itu adalah fisik yang aku ketahui. Aku belum
terlalu paham hatimu. Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasa. Aku bahagia, aku
sedih, aku bimbang, aku belum tahu. Aku tidak tahu pasti, mengapa Yudha
“mengacangi” aku, setiap aku ada. Aku hanya ingin katakan Tolong! Kenali aku.
Kristi akhirnya berada di pihakku. Dia
adalah sahabat Caca. Satu langkah maju, untuk mengenal Yudha, walau itu adalah
hal konyol.
“Aku kurang apa? Ada yang salah denganku?” curhatku pada Kristi.“Sabar. Kamu mau mbales Caca?”tanyanya.“Nggak. Aku tidak mau menusuk orang dari belakang.”kataku.“Andai saja, Yudha mau mengenalmu. Kamu humoris dan pintar. Dia saja yang sok jual mahal.”kata Kristi.
Sejenak aku ingin melupakan Yudha.
Tapi tetap tidak bisa! Aku salah apa? Ada yang tidak beres
dengan aku? Aku bingung! Aku tak tahu apa penyebabnya setiap ada aku, Yudha
selalu “mengacangiku”. Aku juga tidak pernah menyimpan dendam atau pun apalah
kepada Caca. Meski kelihatannya ikhlas melepas, tapi di dalam terasa sakit. Aku
tidak bersikap munafik. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk mengenalnya!
Tapi, apa balasannya? Aku juga tidak bermaksud merusak
persahabatan Caca dan Kristi. Inisiatif Kristi sendiri untuk membantuku.
“Mungkin! Bukan sesuatu yang mustahil, kamu mengenal Yudha. Sayangnya dia sok jual mahal. Yang mustahil, bila aku berpacaran dengan Aldi. Itu baru mustahil. Kurasa jika Yudha mau, dia pasti akan berkenalan denganmu.” ucap Kristi.
Sering
kali aku hanya terdiam saat Kristi berucap itu. Itu KONYOL! Oviiiiiii, jangan mencari pembenaran
dalam dirimu, biarkan saja. Itu kata-kata yang selalu aku renungkan. Manusia
memang tidak ada yang sempurna. Aku mengerti hal ini. Aku harus segera merasa
bahagia. Kalau tidak, aku akan terperangkap dalam depresi lagi. Yudha tidak
pantas untuk terlalu disedihkan. Tapi mau apa lagi? Aku terlanjur cinta.
Terperangkap dalam cinta, memang tidak
enak rasanya bila itu setengah hati. Juga, tak akan mungkin aku mengenalnya,
bila sikapnya terus seperti itu. Air mataku mengalir deras, masuk ke dalam
mulut. Penuh penyesalan dan rasa malu. Rasa-rasanya aku tak bisa berpikir
jernih hari itu, hanya untuk Yudha. Aku terlalu mencintainya!
Ada yang tahu perasaanku?
Mungkin tidak ada. Kristi yang sudah agak lama dekat denganku pun, dia tak
tahu. Depresi tentang cinta! Ya, mungkin itu yang tepat saat ini. Mungkin aku
tak akan bisa menjadi seperti yang engkau minta. Namun, selama nafasku masih
terhembus, aku akan mencoba menjadi seperti yang engkau pinta.
*bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar