Senin, 12 Agustus 2013

Satria Piningit


Set time machine, pull back the memory…
Kala itu belum nampak bayang Sang Satria Piningit. Sang Diajeng masih dalam taraf pendewasaan diri. Masih terlalu belia untuk mengenal masa-masa dimana dunia dewasa yang terkadang mengandung banyak kebohongan belaka. Dan sekarang, setelah Diajeng mengenal Satria Piningit, mungkin dia akan bahagia dalam masa-masa ini.
Seperti pada dimensi paralel. Dimensi dimana diri kita yang lain berada disana dan melakukan hal yang  berbeda dari yang kita lakukan sekarang. Jarak yang mungkin bisa membahagiakan Diajeng dan Satria Piningit.
Pernah, Sang Satria berkata:
Cinta tak mengenal waktu, hanya cara memberi cinta yang berubah
Dan disaat yang sama, Diajeng tak mempedulikan aksara-aksara itu. Yang diingkan hanyalah membebaskan pikirannya sejenak dari Satria Piningit. Kesal, kecewa, merasa bersalah itu iya. Untuk beberapa saat saja.
Hidup itu selalu baru. Hidup yang hanya mengungkit-ungkit masa lalu adalah bodoh. Masa lalu bukan prioritas, hanya bisa di refleksikan untuk kehidupan mendatang yang lebih baik. Masalah anggap sebagai batu sandungan, yang nantinya bisa membuat kita bangkit dan lebih baik.
Suatu pagi seorang pujangga terbangun dari mimpinya dan mengatakan kata indah tentang cinta. 
Aku sungguh ingin mencintaimu dengan segenap perjuanganku…
(Tapi itu, dulu...)

Jumat, 09 Agustus 2013

Jiwa Untuk Raga, Raga Untuk Jiwa

Jiwa Untuk Raga
Selamat untuk raga, yang selalu ada untuk jiwa, yang telah membantu jiwa selama 16 tahun ini. Yang telah membantu untuk meneruskan kehendak jiwa, pada jiwa raga yang lain. Yang telah membantu jiwa untuk mengungkapkan perasaan, segala keluh kesah, bahagia dan sedih. Tanpa raga, jiwa ini hanya seonggok sesuatu yang entah tempatnya dimana yang entah nantinya akan kemana. Yang tidak tau akan menyampaikan kepada siapa segala keluh kesah. Tanpa raga pula, mungkin jiwa ini tak berperasaan, tak kenal apa itu kasih, apa itu cinta, apa itu bahagia dan duka.
Maaf, selama 16 tahun, jiwa sering melakukan kesalahan. Jiwa ini cengeng, jiwa ini egois, kadang tak memperhatikan raga. Jiwa ini haus akan sesuatu yang kadang raga tak tahu apa itu. Jiwa ini ingin sekali... Maaf juga, jika nanti suatu saat jiwa akan meninggalkan raga. Tapi, kita adalah satu. Kita milik Tuhan.
Dan untuk kedepannya, jiwa ingin agar lebih dewasa, agar tidak jadi orang yang labil lagi, punya ketetapan agar raga bisa bahagia, dapat berpikir secara kritis. Dan semoga, raga tetap dikuatkan dalam segala apapun. Tidak mudah sakit terutama. Tuhan memberkati raga
Raga Untuk Jiwa
Selamat untuk jiwa, yang sudah menemani raga selama 16 tahun ini. Maafkan raga yang dulu pernah sekarat. Kau adalah teman hidup dan matiku. Maafkan raga yang selama ini kurang bisa menuruti apa kehendak jiwa. Raga percaya jiwa pasti tau kondisi raga. Raga sadar, tanpa jiwa, raga hanyalah jasad tak bernyawa. Raga tak bisa melakukan apa. Tak bisa berpikir, tak bisa bergerak, tak bisa mengenal siapa pun. Tak bisa merasakan apa pun. Tapi, kita memang ditakdirkan bertemu. Kita ditakdirkan bersama.
Raga sadar, masih banyak salah. Raga yang lemah, yang tidak bisa melaksanakan kehendak jiwa, raga yang kadang tidak mendengarkan jiwa. Raga berharap, agar bisa menjadi lebih baik, bisa seimbang dengan kehendakmu, bisa bahagia dan bisa jadi yang terbaik. Itu karena jiwa juga yang selalu menemani raga ini dalam kondisi apapun. Terima kasih atas persaudaraan dalam satu daging ini.
aku ingin memberikan yang terbaik bagi mereka...

minggu ke 32, hari ke 222 dari 364

Kamis, 08 Agustus 2013

Tentang Impian

Apakah aku boleh bermimpi?
Boleh. Tapi buat apa jika kemudian kamu terbangun dan kecewa?
Drop itu bisa datang kapan saja. Drop fisik ataupun drop karena menyerah.
Kata jiwa : Ayo bangun fisik, aku masih kuat, aku masih mampu.
Kata fisik : Kamu tau? Aku pernah sekarat. Sabarlah.
Di saat jiwa menggebu-gebu menginginkan sesuatu, di saat yang sama pula, fisik ini menyerah.
Ini tentang impian. Impian bocah labil. Dasarnya memang masih labil. Pinginnya ini itu. Dan semuanya itu tak segampang membalikkan telapak tangan. Ini jalan menemui sebuah jati diri. Halah, bahasaku berat banget.
Apakah ini sedang dalam masa pancaroba, karena sering gelisah ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan? Dan apa yang harus dilakukan ketika menunggu apa yang kita inginkan, tapi keinginan kita ada dikuasa orang lain?
Rasa salah pada diri sendiri itu selalu ada. Karena kita cacat, tidak sempurna. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji, dengan apa keinginanku dulu. Tapi aku tak ingin terus tidur nyenyak dalam mimpi. Mimpi. Seperti yang sudah-sudah. Apa artinya mimpi tanpa realisasi? 
Ayooo.. Mana semangatmu yang dulu?
Tapi aku yakin, jalanku bukan seperti itu. Aku yakin, Tuhan sudah memilihkan aku jalan yang terbaik. Dan tentu harus aku jalani. Aku tak mau mengecewakan orang tua. Aku ingin meneruskan keturuan dari Brayat Pinuji dan Cokrodiningrat. Dari Hanyakra Saloka. Aku ingin yang terbaik.
Dan tak mungkin, aku terus terlelap, tak mau bangun dalam sebuah bunga tidur
Salam
Indra