Rabu, 30 Januari 2013

Mengejar Bintang

Pergilah ketempat dimana kau menemukan banyak bintang, lalu tariklah garis yang akan menghubungkan bintang satu dan yang lain sehingga membentuk inisial nama dari seseorang yang kau sukai.
Berawal cerita teman mulai Agustus sampai tadi malam, lalu membaca kisahmu, lalu berangan sendiri...
Ada saatnya, dimana kita harus memagari hati dan menitipkannya pada orang lain.
Mulai, ini dini hari. Memang sudah niatan bangun, menikmati paket midnight dan menulis ini.
Anak muda. Banyak cinta, itu biasa. Saling lirik itu wajar. Berawal saling lirik akhirnya perlahan jatuh. Jatuh yang awalnya tidak menyakitkan. Tapi, pasti diakhir yang namanya jatuh, itu pasti sakit.
Meski diam-diam aku masih saja menatapmu
Dengan cinta yang malu-malu
Anggap saja, dia yang menjatuhkan itu bintang. Lalu berusaha dikejar dengan berbagai cara pada saat kasmaran. Tapi, kenyataan tidak selalu sama seperti pada mimpi. Diantara dua : berhasil tapi berani menanggung malu atau gagal dengan perasaan yang hanya dipermainkan.
Kamu masih suka sama dia?
Ya.
Mau diperjuangin terus? Tapi, kalo ndak ada realisasinya gimana?
Yaa.. Gatau
Masih pengen ngejarkan?
Aku jalan, aku nggak ngejar
Suatu hari, bakal berjalan beriringan
Ya, di dimensi paralel
Ini. Dia yang menurut saya hampir merelakan bintangnya dan rasanya pasrah saja untuk melepaskan. Ga ada realisasinya, gimana?
Tahukah? Ini jam 2:12. Dan saya, kembali berangan tentang cinta. Lucu.
Tetaplah menjadi bintang dilangit...
Salam
Indra

Sabtu, 26 Januari 2013

Diadjeng Sendja



Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian

Saya memendam ini sudah terlalu lama. Dan apapun yang dipendam, akhirnya akan dikeluarkan juga. Termasuk air mata dan perasaan. Saya menulis ini, inspirasinya oleh puisi orang yang judulnya Ada Apa Dengan Senja dan tentang cerita-cerita pakde dan ibu tentang Sinuwun.
Mulai dengan senja yang identik dengan menunggu seseorang. Yap! Saya memang menunggu seseorang yang seharusnya tidak boleh di tunggu apalagi dimiliki. Entah. Dan, saya juga harus siap melepaskan penantian itu sewaktu-waktu. Oke. Kembali ke senja yang juga identik dengan menatap bagaskara yang perlahan kembali keperaduan. Dan, selain menunggu saya juga sibuk merangkai untaian aksara yang nantinya akan menjadi paragraf.
Sebenarnya dalam setiap senja, saya inginkan cerah. Saya ingin melihat bayangan saya sendiri yang jatuh dilantai dan siluet-siluet saat senja. Saya kangen saat bagaskara menelusup melalui celah-celah jendela ataupun pintu ataupun ventilasi. Sayangnya, sudah beberapa minggu terakhir ini senja selalu tertutup kumulus nimbus dan air yang ditumpahkan dari langit. Sebut saja anugrah. Hanya air.
Dan sejujurnya saya lebih suka saat pagi. Masih segar, ada kopi panas, belum banyak orang berlalu lalang. Terutama dulu saat masa-masa SMP. Saya selalu berangkat pagi untuk Sowan Gusti. Saya merindukan saat-saat sampai di Gombel, melihat bagaskara merekah merah serta saat turun dari bus dengan langit masih biru donker dan cahaya oranye keemasan dari sorot lampu jalanan yang serta menerangi Tugu Muda. Tapi senja, bisa membuktikan bahwa ia tak lebih buruk dari pagi. Dan itu benar.
Dan sewaktu SMP saya memimpikan jadi orang dalem keraton. Apa rasanya jadi orang dalem keraton? Yang jelas ada karisma sendiri yang terpancar dari seseorang yang menjadi orang dalem keraton. Entah. Yang jelas saya masih suka mendengarkan cerita-cerita dari pakde ataupun ibu saya tentang keraton.
Cokrodiningrat. Katanya masih ada hubungan darah dengan eyang. Tapi, eyang memang tidak memakai nama Cokrodiningrat, hanya Raden Roro. Raden Roro. Artinya eyang saya masih ada hubungannya dengan keraton. Berarti saya juga? Tidak tahu dan mungkin tidak penting.

Bu, kok ibu ndak ada nama keratonnya? Kan eyang sama-sama dari keraton.
Nama keraton ndak penting. Yang penting sikap dan perilakunya. Gunanya nama apa kalau sikap dan kelakuannya ndak baik.
Diajeng Senja. Perempuan Senja. Saya tidak ingin diidentikkan dengan seorang yang setia dan terlalu setia pada senja. Tidak. Saya tidak seperti itu. Saya hanya suka senja. Senja yang cerah. Saya lebih ingin orang terinspirasi dengan apa yang saya tulis. Matur Nuwun

Salam
Indra

Jumat, 18 Januari 2013

Between Hello and Goodbye



18 Januari 2013


Mengingatkan pada masa-masa yang jauh


Selamat siang, yang tadi siang tidak dengan sengaja, tapi sedikit diharapkan untuk datang dan akhirnya datang tak diundang.
Aku belum bisa membalas kerlingan mata yang menurutku manis itu. Maafkan aku.
Aku menyadari kedatanganmu dengan jelas. Jelas didepan mataku. Hatiku berteriak amat histeris, tapi mulutku berusaha tidak mengungkapkan. Ya, aku menahan jeritan kedatanganmu hingga pipiku merona merah. Bahkan, hingga saat ini. Aku masih menjerit-jerit dalam hati, akan kedatanganmu tadi.
Aku tahu, kamu tidak menyadari bahwa aku sudah hadir di acara itu sebelum mulai dan kamu hadir saat pertengahan acara. Duduk dan bermantra. Lalu pindah bersama gerombolanmu.
CLBK? Cinta Lama Bersemi Kembali atau Cinta Lama Belum Kelar? Tidak, kawan. Aku berusaha setia pada salah seorang disana.
Kamu baru menyadari bahwa itu aku setelah jabat tangan wajib itu. Dan, ternyata kamu shock setelah benar-benar tahu, bahwa itu aku. Dan ini adalah jabatan tangan pertama setelah Januari 2011 lalu. Lucu.
Dan, setelah itu ternyata kamu masih belum percaya juga, bahwa daritadi aku ada dibelakangmu. Menahan geli, tawa, senang, deg-degan… ya seperti itu. Berulang kali kamu melempar senyum dan tawa kecil saat menghadap ke belakang. Ya, aku pun ikut tertawa kecil tentunya.
Kamu nggak jauh beda kaya GW yang dulu. GW yang aku kenal. GW yang masih pakai kacamata, rambut bergaya speaky, sok cool, yang masih memakai sepatu adidas dan yang sering godain cewek-cewek. Yup! Aku masih ingat.
Acara itu sudah selesai. Dan, rupanya kamupun masih saja belum percaya bahwa itu aku. Ini aku. Aku yang dulu. Ingat 30 Mei 2010 kan? Ingat 8 September 2010 hinggal 29 Januari 2011 kan? Lucu. Ya, masa-masa aku masih terlalu labil untuk menjadi anak kelas 8.
Ternyata kamu mengikuti aku keluar. Dan belum percaya juga rupanya, hingga kamu bersalaman denganku lagi untuk yang kesekian kalinya dihari itu. Dan akhirnya.. kamu percaya juga, bahwa itu aku.
Ini memang pertemuan yang tidak direncanakan. Ini kebetulan. Ini singkat. Hanya untuk mengenang cerita-cerita lawas yang konyol dan yang terlalu labil untuk diceritakan lebih lanjut. Senang sekali bisa bertemu denganmu dihari itu. Bahasa gaulnya flashback haha..
Tak beberapa kemudian, aku sudah melihat kamu meninggalkan halaman Gereja itu. Bukan dengan B 8358 JH, tapi berganti CBR Merah. Bye, GW… sampai ketemu lain hari… Dan kamu tahu? Aku senang sekali nulis cerita ini...
Ketika kami berpisah hari itu, aku tidak mengharapkan apa-apa sama sekali. Apalagi sesuatu yang spektakuler. Tapi kemudian aku menemukan diriku, merindu masa lalu.
amazing miracle today. thankyou :)

Salam
Indra

Sabtu, 12 Januari 2013

Koronka

Dalam heningku, aku merenung. Merefleksikan apa yang sudah kulakukan hari ini. Baik atau buruk. Dan, berharap semoga bisa lebih baik.
Dalam heningku, dalam hatiku, mulai aku bermantra. Mantra-mantra sederhana, yang dikenalkan Pakde kepadaku, menjelang studi akhir menengah pertama. Sederhana sekali.
Jangan lupa ya, 9 malam berturut-turut.
Ya, Pakde.
Kalau bisa, di ikuti keluar dari kamar, dari ruangan. Biar, udara malam menyapamu.
Pakde juga pernah berkata
Jangan takut, biarkan suara-suara itu datang, itu suara hatimu.
Ya, tapi yang aku lakukan, hanya berdoa itu. 9 malam berturut-turut dengan suatu ujub. Novena.
Itu cerita dulu, dipertengahan tahun terakhir dalam studi menengah pertama.
Malam itu hujan. Mataku belum ingin ditutup selama berjam-jam saat itu. Perlahan aku keluar kamar, keluar rumah, hanya ingin melihat seberapa derasnya hujan. Dan, setelah itu, aku masih belum bisa memejamkan mata. Dan, akhirnya pun aku mulai bermantra lagi. Sekedar penenang hati, yang kebetulan saat itu sedang risau entah kenapa.
Rama Kawula
Sembah Bekti Marang Dewi Maria
Kawula Pitados
Akhrinya, sampai juga pada mantra itu
Bapa yang kekal, kupersembahkan kepadaMu
Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Allah-an PutraMu
Yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus
Sebagai pemulihan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia
Dan butir pertama pun, mulai di ucapkan tanpa suara
Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah
Belas kasihMu kepada kami dan seluruh dunia
Terus. Setiap sepuluh kali butir itu dikumandangkan dalam hati, tersisip mantra Bapa yang kekal. Hingga lima kali sepuluh berturut-turut.
Ditutup
Allah yang kudus
Kudus dan berkuasa
Kudus yang kekal
Kasihanilah kami dan seluruh dunia
Tiga kali.

Itu perayaan tanpa suara. Mantra-mantra yang mengalun diam. Tak jarang air mataku tumpah ketika bermantra. Orang bilang, mantra itu sungguh kamu hayati, sehingga kamu bisa seperti itu. Tak jarang pula merinding ketika mengucap mantra.
Menengadah ke langit. Merunduk ke bumi. Tuhan menciptakan langit bak tenda dan menghadiahkan bumi laksana permadani. Matur nuwun, Gusti.
Dan, dalam mantraku selalu aku menyebut namamu. Namamu berjatuhan diatas kepalaku. Itu janjiku. Aku tak lupa kamu.
Aku persembahkan hidupku kedalam tanganMu, Tuhan
Ubahlah agar menjadi berkat bagiku. Amin.
Mataku tertutup. Bibirku terkatup. Hatiku terbuka.

Salam
Indra