Senin, 31 Desember 2012

Tapi Bukan Aku #3



Hujan berakhir sudah. Sang mega berhenti menangis. Tapi belum untuk perasaanku. 2 bulan berlalu sudah. Terkadang, aku masih merindukan Yudha. Aku ingin mengenalnya. Bagaimana caranya tapi? Aku sangat berharap. Beruntung ya, mereka yang dapat mengenal hatinya. Mengenalnya lebih lanjut.

Dear diary
To you, my beloved friend , Yudha

You know, I’M YOUR SECRED ADMIRER. I waiting for you’re heart since grade 7th. Until NOW!

Masih menunggu
Kepadamu
Aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak penuh ragu
Jalan kita sangatlah bersimpangan
Ya! Jalanmu dan jalanku
Meski diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu
Terlena sejenak oleh hembusan sang bayu
Yang bertahan dan mengalir tentram dibawah naungan mega
Tolong!
Kenali aku dan pahamilah analogiku
Perasaan kita berbeda
Sulit menebak, seperti menebak langit abu
Menyentuh dengan sederhana, riil apa adanya
Tutur kata yang tidak rumit, tapi jujur dan indah
Bisakah kau lakukan untukku?
Setia menatapmu, sekalipun hanya sampai disitu

Salam
Ovi

Yap, secarik kertas diary sudah penuh dengan ungkapan isi hatiku. Aku masih akan menunggu perasaanmu. Apapun itu, aku sayang padamu. Bahagiaku hanya padamu….

Mungkinkah masih ada waktu yang tersisa untukku? Mungkinkah masih ada cinta? Kataku dalam hati, setiap aku bertemu denganmu. Mengertilah aku!!!! Inilah jalan cintaku! Mencintai namun tak di anggap! Mengagumi tanpa dicintai. Merelakan ia pergi kegenggaman orang lain adalah sesuatu yang mustahil!!

Apa salahnya memberikan rasa cinta pada seseorang? Yudha, aku sayang kamu. Yudha, maafkan aku. Darimu, aku belajar untuk mencintai secara dewasa. Memendam perasaan terlalu lama, itu tidak baik. Aku berusaha dengan segala cara untuk mengungkapkan perasaanku. Tapi apa balasmu?

Yudha, disini aku tetap mencintaimu. Aku masih menunggumu, entah itu sampai kapan. Semoga engkau tahu. Perasaan ini tak lekang oleh waktu, tak terkikis oleh waktu…

Aku hanya ingin tertawa
Sehingga hati aku
mati rasa akan luka

*selesai*

Tapi Bukan Aku #2



Masalah itu masih berlanjut sampai sekarang. Aku seorang Ovi, yang masih mengharapkan cinta seorang Yudha. Perlahan melepasmu adalah hal yang paling berat saat ini. Apalagi ketangan orang lain. Tapi, sebagai individu yang perseptif, kamu bisa melihat diriku yang sesungguhnya. Aku tak berdaya terhadapmu. Pahamilah analogiku. 

Aku pernah bilang pada Caca “Sudah, ga’ apa. Ambil saja…” walaupun sesungguhnya menusuk. 

Caca mungkin berpikiran, apakah aku sudah ikhlas melepas Yudha? Tentu jika boleh menjawab, aku jawab TIDAK.
Kamu pemuda berambut pendek, bersenyum menawan dan matanya bersinar. Itu adalah fisik yang aku ketahui. Aku belum terlalu paham hatimu. Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasa. Aku bahagia, aku sedih, aku bimbang, aku belum tahu. Aku tidak tahu pasti, mengapa Yudha “mengacangi” aku, setiap aku ada. Aku hanya ingin katakan Tolong! Kenali aku.
Kristi akhirnya berada di pihakku. Dia adalah sahabat Caca. Satu langkah maju, untuk mengenal Yudha, walau itu adalah hal konyol. 
“Aku kurang apa? Ada yang salah denganku?” curhatku pada Kristi. 
“Sabar. Kamu mau mbales Caca?”tanyanya. 
“Nggak. Aku tidak mau menusuk orang dari belakang.”kataku. 
“Andai saja, Yudha mau mengenalmu. Kamu humoris dan pintar. Dia saja yang sok jual mahal.”kata Kristi. 
Sejenak aku ingin melupakan Yudha. Tapi tetap tidak bisa! Aku salah apa? Ada yang tidak beres dengan aku? Aku bingung! Aku tak tahu apa penyebabnya setiap ada aku, Yudha selalu “mengacangiku”. Aku juga tidak pernah menyimpan dendam atau pun apalah kepada Caca. Meski kelihatannya ikhlas melepas, tapi di dalam terasa sakit. Aku tidak bersikap munafik. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk mengenalnya! Tapi, apa balasannya? Aku juga tidak bermaksud merusak persahabatan Caca dan Kristi. Inisiatif Kristi sendiri untuk membantuku. 
“Mungkin! Bukan sesuatu yang mustahil, kamu mengenal Yudha. Sayangnya dia sok jual mahal. Yang mustahil, bila aku berpacaran dengan Aldi. Itu baru mustahil. Kurasa jika Yudha mau, dia pasti akan berkenalan denganmu.” ucap Kristi. 
Sering kali aku hanya terdiam saat Kristi berucap itu. Itu KONYOL! Oviiiiiii, jangan mencari pembenaran dalam dirimu, biarkan saja. Itu kata-kata yang selalu aku renungkan. Manusia memang tidak ada yang sempurna. Aku mengerti hal ini. Aku harus segera merasa bahagia. Kalau tidak, aku akan terperangkap dalam depresi lagi. Yudha tidak pantas untuk terlalu disedihkan. Tapi mau apa lagi? Aku terlanjur cinta.
Terperangkap dalam cinta, memang tidak enak rasanya bila itu setengah hati. Juga, tak akan mungkin aku mengenalnya, bila sikapnya terus seperti itu. Air mataku mengalir deras, masuk ke dalam mulut. Penuh penyesalan dan rasa malu. Rasa-rasanya aku tak bisa berpikir jernih hari itu, hanya untuk Yudha. Aku terlalu mencintainya!
Ada yang tahu perasaanku? Mungkin tidak ada. Kristi yang sudah agak lama dekat denganku pun, dia tak tahu. Depresi tentang cinta! Ya, mungkin itu yang tepat saat ini. Mungkin aku tak akan bisa menjadi seperti yang engkau minta. Namun, selama nafasku masih terhembus, aku akan mencoba menjadi seperti yang engkau pinta.

*bersambung*

Tapi Bukan Aku #1



Melupakan dirinya, merupakan salah satu hal dalam hidupku yang tak bisa kulakukan dalam sekejap. Begitu mengenang dan memang patut untuk dikenang. Seandainya kau tahu, aku masih berusaha tidak berpaling kelainnya hanya untukmu. Sayang, kau tidak merasa. Aku, seorang Ovi yang merindukan Yudha disini. Rasanya 2 tahun 2 bulan, belum cukup untuk mengetahui Yudha secara mendalam. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Tapi apa boleh buat?
Pertama melihatnya, adalah sewaktu MOS awal kelas 7. Dan berlanjut di kelas 8, tanpa berpaling daripadanya. 

“Cieeeee, Oviiiii.. Ehemmmm”teriak teman-temanku saat Yudha lewat di depanku. 

Malu tapi senang sekaligus berdebar.  Menurutku, itu hanyalah dukungan kecil agar Yudha mau mengenalku juga. Tapi ternyata, tidak sesuai rencana. 

“Eheemmm, Vi… Itu lho, ada di sana”kata Ella sambil menunjuk ke arah Yudha. 
“Biasa aja...”jawabku.

Mungkin, Yudha sudah mengetahui bahwa aku menyukainya. Sejak awal kelas 7, aku mulai mencari informasi sana-sini tentang dirinya. 

“Ee, kamu kenal Yudha kan? Dulu kamu satu sekolahan kan? Aku boleh minta nomer HP-nya?”tanyaku dengan agak memaksa pada salah satu temannya. 
“Oke, bolehlah. Aku punya 4 nomer. Kamu coba satu-satu ya? Hehehe ..”katanya. 
“Wah, sip. Thanks”.  

Berbagai macam cara selalu terbayang dalam otakku. Bagaimana caranya agar dia tahu bahwa, aku ingin mengenalnya… Ingin mengenalnya lebih jauh, lebih dekat dan lebih dalam. Itu salah satu hal yang selalu membayang pada diriku tentang Yudha.
Tapi itu dulu. Walaupun sekarang masih teringiang dan masih terkenang, hatiku sungguh pilu saat ini. Aku sudah berbulan-bulan menyukainya, tak ada niatkah Yudha untuk mengenalku pula? Seandainya bisa, aku ingin bicara Di akhir tahun, aku hanya berharap dan aku mau kau jadi pasangan CLD ku, bisa? tapi kurasa, itu tak mungkin.
Waktu itu hari ulang tahun Yudha. Teman-temanku beraksi. Dari bawah, mereka memanggil Yudha dan hampir saja aku di arak menuju kelasnya untuk memberikan selamat. Tapi tidak berhasil, Yudha tidak mau keluar kelas. Akupun tidak mendapat jabat tangannya. Sudahlah. Aku belum tahu dan sampai saat ini aku tidak tahu, mengapa Yudha selalu “mengacangi” aku setiap aku ada.

“Tumben kamu ga’ ceria Ovi?” tanya seorang temanku. 
“Nggak apa, hanya masalah kecil.”jawabku pilu. 

Yah, itulah penyebabku. Setelah beberapa hari lalu, aku mendengar kabar bahwa Yudha telah mengajak Caca untuk CLD. Kenapa Yudha tidak mengajakku? Aku yang lebih duluan untuk mencintanya, tapi kenapa Caca yang di ajak? Kenapa bukan aku? Kenapa kamu nggak ada itikat buat ngenal aku?
Semenjak itu aku selalu galau dan bimbang. Mengapa juga Nirma bilang padaku dan Marcheline waktu itu “Yudha ngajak Caca CLD.” katanya.  Biarlah semuanya berlalu dengan segera. Aku ingin membencimu, karena aku telah mencintaimu dan terlalu banyak berharap. Lupakanlah ini Yudha! Aku hanya ingin, kau kenal aku. Aku memang tidak sempurna. Aku akan tetap setia disini mengunggumu. Karena aku masih seperti dulu dan sekalipun hanya, sampai di sini.

*bersambung*

Tak Semudah Memainkan Kamera Analog



Semuanya manual. Mulai dari mengatur diafragma kamera, ISO kamera dan speed-nya. Mengatur sendiri tanpa tahu hasil akhirnya dulu. Maklum, ini kamera kuno. Bukan digital yang sudah tahu hasilnya tanpa mencetak sebelumnya.
Memang, kamera analog tergolong ribet dan mahal dalam penggunaan. Dan hasilnya pun, belum tentu seperti yang kita harapkan. Tidak sesuai atau bahkan menyimpang sekali karena kita kurang berhati-hati. Harus membidik dengan tepat, tidak goyang, tidak bisa di hapus dan harus mantap.
Sama halnya dengan sebuah kisah asmara. Tidak cukup melihat luarnya saja. Dalamnya sangat perlu untuk di perhatikan. Belum tentu apa yang kita lihat dari luarnya, sama dengan apa yang ada di dalamnya.
Saya berpikiran sama seperti kamera analog yang kuno. Harus mengatur sendiri, bidikan harus tepat dan kalau bisa jangan salah. Harus seperti apa yang kita rasakan dan kita inginkan. Jangan terhapuskan dari dalam diri kita tentang rasa itu. Harus mantap pula dalam menjalaninya. Jangan setengah-setengah. Jangan hanya buat mainan karena itu akan memboroskan apa saja.
Tak jarang, orang sering sakit hati, karena apa yang sudah ada dan sudah terjadi tidak sesuai dengan keinginanya. Tidak semulus rencana sebelumnya. Itu wajar. Pelajaran bagi kita, tentang bagaimana cara kerja cinta itu. Saling percaya adalah kuncinya. Percaya diri dan percaya orang lain.
Ini adalah refleksi asmara saya....
Kau datang bagaikan anak panah yang melesat, menancap tepat pada sasaran yang di tuju. Itu hatiku, dan aku kesakitan karena tancapanmu merobek nadi-nadi di dalamnya. Aku sekarat, terkapar dalam nafas yang tersengal-sengal dan kau tetap diam di peraduanmu yang jauh di sana - Memotret Perempuan
Salam
Indra