Dia adalah nada-nada dalam hidupku. Kadang kuat, kadang samar. Tapi pada setiap langkah yang tersesat, aku selalu bisa mendengar nada-nada itu, bahkan dengan mata terpejam. Seperti pasir yang basah, seperti ombak, air dingin yang merendam mata kakiku dan dermaga yang hangat; nada-nada itu menyelimutiku seperti matahari, lautan, dan lengkingan burung-burung pantai di musim panas.
Belakangan aku tahu, namamu berarti nada-nada, irama, musik. Begitulah aku akan mengingatmu.
Kamu seperti nada-nada yang diterbangkan angin dari tempat yang
sangat jauh. Aku menangkap nada-nada itu ketika sunyi jatuh. Seperti
sihir. Aku memejamkan mataku dan mereguk suara-suara yang mengelilingi
kepalaku, melingkupi hatiku, merambati jari-jemariku. Seperti Freddie
dalam adegan-adegan awal August Rush, aku mendengar musik pada setiap
degup jantung, denting sendok dan piring, hela napas, angin, rintik
hujan, dekuk burung hantu.
Ada sesuatu dalam nada-nada itu yang membuatku ringan. Aku tidak berjalan, aku melayang.
Kuikuti nada-nada itu (tidak mudah, karena terkadang nada-nada itu
memelan dan menghilang ketika suara-suara lain menelan), lalu
aku menemukanmu.
Tetapi kamu tidak sedang menyanyi. Kamu sedang berdoa. Sesungguhnya, kamu sedang memanggilku......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar