Senin, 31 Desember 2012

Tak Semudah Memainkan Kamera Analog



Semuanya manual. Mulai dari mengatur diafragma kamera, ISO kamera dan speed-nya. Mengatur sendiri tanpa tahu hasil akhirnya dulu. Maklum, ini kamera kuno. Bukan digital yang sudah tahu hasilnya tanpa mencetak sebelumnya.
Memang, kamera analog tergolong ribet dan mahal dalam penggunaan. Dan hasilnya pun, belum tentu seperti yang kita harapkan. Tidak sesuai atau bahkan menyimpang sekali karena kita kurang berhati-hati. Harus membidik dengan tepat, tidak goyang, tidak bisa di hapus dan harus mantap.
Sama halnya dengan sebuah kisah asmara. Tidak cukup melihat luarnya saja. Dalamnya sangat perlu untuk di perhatikan. Belum tentu apa yang kita lihat dari luarnya, sama dengan apa yang ada di dalamnya.
Saya berpikiran sama seperti kamera analog yang kuno. Harus mengatur sendiri, bidikan harus tepat dan kalau bisa jangan salah. Harus seperti apa yang kita rasakan dan kita inginkan. Jangan terhapuskan dari dalam diri kita tentang rasa itu. Harus mantap pula dalam menjalaninya. Jangan setengah-setengah. Jangan hanya buat mainan karena itu akan memboroskan apa saja.
Tak jarang, orang sering sakit hati, karena apa yang sudah ada dan sudah terjadi tidak sesuai dengan keinginanya. Tidak semulus rencana sebelumnya. Itu wajar. Pelajaran bagi kita, tentang bagaimana cara kerja cinta itu. Saling percaya adalah kuncinya. Percaya diri dan percaya orang lain.
Ini adalah refleksi asmara saya....
Kau datang bagaikan anak panah yang melesat, menancap tepat pada sasaran yang di tuju. Itu hatiku, dan aku kesakitan karena tancapanmu merobek nadi-nadi di dalamnya. Aku sekarat, terkapar dalam nafas yang tersengal-sengal dan kau tetap diam di peraduanmu yang jauh di sana - Memotret Perempuan
Salam
Indra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar