Dalam heningku, aku merenung. Merefleksikan apa yang sudah kulakukan hari ini. Baik atau buruk. Dan, berharap semoga bisa lebih baik.
Dalam heningku, dalam hatiku, mulai aku bermantra. Mantra-mantra sederhana, yang dikenalkan Pakde kepadaku, menjelang studi akhir menengah pertama. Sederhana sekali.
Jangan lupa ya, 9 malam berturut-turut.
Ya, Pakde.
Kalau bisa, di ikuti keluar dari kamar, dari ruangan. Biar, udara malam menyapamu.
Pakde juga pernah berkata
Jangan takut, biarkan suara-suara itu datang, itu suara hatimu.
Ya, tapi yang aku lakukan, hanya berdoa itu. 9 malam berturut-turut dengan suatu ujub. Novena.
Itu cerita dulu, dipertengahan tahun terakhir dalam studi menengah pertama.
Malam itu hujan. Mataku belum ingin ditutup selama berjam-jam saat itu. Perlahan aku keluar kamar, keluar rumah, hanya ingin melihat seberapa derasnya hujan. Dan, setelah itu, aku masih belum bisa memejamkan mata. Dan, akhirnya pun aku mulai bermantra lagi. Sekedar penenang hati, yang kebetulan saat itu sedang risau entah kenapa.
Rama Kawula
Sembah Bekti Marang Dewi Maria
Kawula Pitados
Akhrinya, sampai juga pada mantra itu
Bapa yang kekal, kupersembahkan kepadaMu
Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Allah-an PutraMu
Yang terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus
Sebagai pemulihan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia
Dan butir pertama pun, mulai di ucapkan tanpa suara
Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah
Belas kasihMu kepada kami dan seluruh dunia
Terus. Setiap sepuluh kali butir itu dikumandangkan dalam hati, tersisip mantra Bapa yang kekal. Hingga lima kali sepuluh berturut-turut.
Ditutup
Allah yang kudus
Kudus dan berkuasa
Kudus yang kekal
Kasihanilah kami dan seluruh dunia
Tiga kali.
Itu perayaan tanpa suara. Mantra-mantra yang mengalun diam. Tak jarang air mataku tumpah ketika bermantra. Orang bilang, mantra itu sungguh kamu hayati, sehingga kamu bisa seperti itu. Tak jarang pula merinding ketika mengucap mantra.
Menengadah ke langit. Merunduk ke bumi. Tuhan menciptakan langit bak tenda dan menghadiahkan bumi laksana permadani. Matur nuwun, Gusti.
Dan, dalam mantraku selalu aku menyebut namamu. Namamu berjatuhan diatas kepalaku. Itu janjiku. Aku tak lupa kamu.
Aku persembahkan hidupku kedalam tanganMu, Tuhan
Ubahlah agar menjadi berkat bagiku. Amin.
Mataku tertutup. Bibirku terkatup. Hatiku terbuka.
Salam
Indra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar