Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian
Saya
memendam ini sudah terlalu lama. Dan apapun yang dipendam, akhirnya akan
dikeluarkan juga. Termasuk air mata dan perasaan. Saya menulis ini,
inspirasinya oleh puisi orang yang judulnya Ada Apa Dengan Senja dan tentang
cerita-cerita pakde dan ibu tentang Sinuwun.
Mulai
dengan senja yang identik dengan menunggu seseorang. Yap! Saya memang menunggu
seseorang yang seharusnya tidak boleh di tunggu apalagi dimiliki. Entah. Dan,
saya juga harus siap melepaskan penantian itu sewaktu-waktu. Oke. Kembali ke
senja yang juga identik dengan menatap bagaskara yang perlahan kembali
keperaduan. Dan, selain menunggu saya juga sibuk merangkai untaian aksara yang
nantinya akan menjadi paragraf.
Sebenarnya
dalam setiap senja, saya inginkan cerah. Saya ingin melihat bayangan saya
sendiri yang jatuh dilantai dan siluet-siluet saat senja. Saya kangen saat
bagaskara menelusup melalui celah-celah jendela ataupun pintu ataupun
ventilasi. Sayangnya, sudah beberapa minggu terakhir ini senja selalu tertutup
kumulus nimbus dan air yang ditumpahkan dari langit. Sebut saja anugrah. Hanya
air.
Dan
sejujurnya saya lebih suka saat pagi. Masih segar, ada kopi panas, belum banyak
orang berlalu lalang. Terutama dulu saat masa-masa SMP. Saya selalu berangkat
pagi untuk Sowan Gusti. Saya
merindukan saat-saat sampai di Gombel, melihat bagaskara merekah merah serta
saat turun dari bus dengan langit masih biru donker dan cahaya oranye keemasan
dari sorot lampu jalanan yang serta menerangi Tugu Muda. Tapi senja, bisa
membuktikan bahwa ia tak lebih buruk dari pagi. Dan itu benar.
Dan
sewaktu SMP saya memimpikan jadi orang
dalem keraton. Apa rasanya jadi orang
dalem keraton? Yang jelas ada karisma sendiri yang terpancar dari seseorang
yang menjadi orang dalem keraton.
Entah. Yang jelas saya masih suka mendengarkan cerita-cerita dari pakde ataupun
ibu saya tentang keraton.
Cokrodiningrat.
Katanya masih ada hubungan darah dengan eyang. Tapi, eyang memang tidak memakai
nama Cokrodiningrat, hanya Raden Roro. Raden Roro. Artinya eyang saya masih ada
hubungannya dengan keraton. Berarti saya juga? Tidak tahu dan mungkin tidak
penting.
Bu, kok ibu ndak ada nama keratonnya? Kan eyang sama-sama dari keraton.
Diajeng Senja. Perempuan Senja. Saya tidak ingin diidentikkan dengan seorang yang setia dan terlalu setia pada senja. Tidak. Saya tidak seperti itu. Saya hanya suka senja. Senja yang cerah. Saya lebih ingin orang terinspirasi dengan apa yang saya tulis. Matur Nuwun…Nama keraton ndak penting. Yang penting sikap dan perilakunya. Gunanya nama apa kalau sikap dan kelakuannya ndak baik.
Salam
Indra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar