Sabtu, 26 Januari 2013

Diadjeng Sendja



Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian

Saya memendam ini sudah terlalu lama. Dan apapun yang dipendam, akhirnya akan dikeluarkan juga. Termasuk air mata dan perasaan. Saya menulis ini, inspirasinya oleh puisi orang yang judulnya Ada Apa Dengan Senja dan tentang cerita-cerita pakde dan ibu tentang Sinuwun.
Mulai dengan senja yang identik dengan menunggu seseorang. Yap! Saya memang menunggu seseorang yang seharusnya tidak boleh di tunggu apalagi dimiliki. Entah. Dan, saya juga harus siap melepaskan penantian itu sewaktu-waktu. Oke. Kembali ke senja yang juga identik dengan menatap bagaskara yang perlahan kembali keperaduan. Dan, selain menunggu saya juga sibuk merangkai untaian aksara yang nantinya akan menjadi paragraf.
Sebenarnya dalam setiap senja, saya inginkan cerah. Saya ingin melihat bayangan saya sendiri yang jatuh dilantai dan siluet-siluet saat senja. Saya kangen saat bagaskara menelusup melalui celah-celah jendela ataupun pintu ataupun ventilasi. Sayangnya, sudah beberapa minggu terakhir ini senja selalu tertutup kumulus nimbus dan air yang ditumpahkan dari langit. Sebut saja anugrah. Hanya air.
Dan sejujurnya saya lebih suka saat pagi. Masih segar, ada kopi panas, belum banyak orang berlalu lalang. Terutama dulu saat masa-masa SMP. Saya selalu berangkat pagi untuk Sowan Gusti. Saya merindukan saat-saat sampai di Gombel, melihat bagaskara merekah merah serta saat turun dari bus dengan langit masih biru donker dan cahaya oranye keemasan dari sorot lampu jalanan yang serta menerangi Tugu Muda. Tapi senja, bisa membuktikan bahwa ia tak lebih buruk dari pagi. Dan itu benar.
Dan sewaktu SMP saya memimpikan jadi orang dalem keraton. Apa rasanya jadi orang dalem keraton? Yang jelas ada karisma sendiri yang terpancar dari seseorang yang menjadi orang dalem keraton. Entah. Yang jelas saya masih suka mendengarkan cerita-cerita dari pakde ataupun ibu saya tentang keraton.
Cokrodiningrat. Katanya masih ada hubungan darah dengan eyang. Tapi, eyang memang tidak memakai nama Cokrodiningrat, hanya Raden Roro. Raden Roro. Artinya eyang saya masih ada hubungannya dengan keraton. Berarti saya juga? Tidak tahu dan mungkin tidak penting.

Bu, kok ibu ndak ada nama keratonnya? Kan eyang sama-sama dari keraton.
Nama keraton ndak penting. Yang penting sikap dan perilakunya. Gunanya nama apa kalau sikap dan kelakuannya ndak baik.
Diajeng Senja. Perempuan Senja. Saya tidak ingin diidentikkan dengan seorang yang setia dan terlalu setia pada senja. Tidak. Saya tidak seperti itu. Saya hanya suka senja. Senja yang cerah. Saya lebih ingin orang terinspirasi dengan apa yang saya tulis. Matur Nuwun

Salam
Indra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar