Set time machine, pull back the memory…
Kala itu belum nampak bayang Sang Satria
Piningit. Sang Diajeng masih dalam taraf pendewasaan diri. Masih terlalu belia
untuk mengenal masa-masa dimana dunia dewasa yang terkadang mengandung banyak
kebohongan belaka. Dan sekarang, setelah Diajeng mengenal Satria Piningit,
mungkin dia akan bahagia dalam masa-masa ini.
Seperti pada dimensi paralel. Dimensi
dimana diri kita yang lain berada disana dan melakukan hal yang berbeda dari yang kita lakukan sekarang.
Jarak yang mungkin bisa membahagiakan Diajeng dan Satria Piningit.
Pernah, Sang Satria berkata:
Cinta tak mengenal waktu, hanya cara memberi cinta yang berubah
Dan disaat yang sama, Diajeng tak
mempedulikan aksara-aksara itu. Yang diingkan hanyalah membebaskan pikirannya
sejenak dari Satria Piningit. Kesal, kecewa, merasa bersalah itu iya. Untuk
beberapa saat saja.
Hidup itu selalu baru. Hidup yang hanya
mengungkit-ungkit masa lalu adalah bodoh. Masa lalu bukan prioritas, hanya bisa
di refleksikan untuk kehidupan mendatang yang lebih baik. Masalah anggap
sebagai batu sandungan, yang nantinya bisa membuat kita bangkit dan lebih baik.
Suatu pagi seorang pujangga terbangun dari
mimpinya dan mengatakan kata indah tentang cinta.
Aku sungguh ingin mencintaimu dengan segenap perjuanganku…
(Tapi itu, dulu...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar