Kamis, 08 Agustus 2013

Tentang Impian

Apakah aku boleh bermimpi?
Boleh. Tapi buat apa jika kemudian kamu terbangun dan kecewa?
Drop itu bisa datang kapan saja. Drop fisik ataupun drop karena menyerah.
Kata jiwa : Ayo bangun fisik, aku masih kuat, aku masih mampu.
Kata fisik : Kamu tau? Aku pernah sekarat. Sabarlah.
Di saat jiwa menggebu-gebu menginginkan sesuatu, di saat yang sama pula, fisik ini menyerah.
Ini tentang impian. Impian bocah labil. Dasarnya memang masih labil. Pinginnya ini itu. Dan semuanya itu tak segampang membalikkan telapak tangan. Ini jalan menemui sebuah jati diri. Halah, bahasaku berat banget.
Apakah ini sedang dalam masa pancaroba, karena sering gelisah ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan? Dan apa yang harus dilakukan ketika menunggu apa yang kita inginkan, tapi keinginan kita ada dikuasa orang lain?
Rasa salah pada diri sendiri itu selalu ada. Karena kita cacat, tidak sempurna. Maafkan aku yang tidak bisa menepati janji, dengan apa keinginanku dulu. Tapi aku tak ingin terus tidur nyenyak dalam mimpi. Mimpi. Seperti yang sudah-sudah. Apa artinya mimpi tanpa realisasi? 
Ayooo.. Mana semangatmu yang dulu?
Tapi aku yakin, jalanku bukan seperti itu. Aku yakin, Tuhan sudah memilihkan aku jalan yang terbaik. Dan tentu harus aku jalani. Aku tak mau mengecewakan orang tua. Aku ingin meneruskan keturuan dari Brayat Pinuji dan Cokrodiningrat. Dari Hanyakra Saloka. Aku ingin yang terbaik.
Dan tak mungkin, aku terus terlelap, tak mau bangun dalam sebuah bunga tidur
Salam
Indra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar