Senin, 02 September 2013

2nd September

Dari : Orang yang tidak pernah berhenti menatapmu sedari dulu.

Hai. Melihatmu seperti melihat masa silam dulu. Nyata, dirimu persis seperti serpihan jiwaku yang dulu. Kagum aku padamu. Aku harap, tak ada orang yang hanya melihatmu sepintas. Ya! Dia harus melihatmu jauh lebih dalam. Dalam kedalam tatapan mata yang seolah kosong, namun ternyata menyimpan harap yang bukan main. 
Ratusan hari yang lalu. Dan masih dengan ingatan tajam, bukan maya, sosokmu nyata. Tentang apa yang kamu lakukan, baju apa yang kamu kenakan, terekam jernih dalam paradigma.
Tahukah kamu, hati ini sudah berkali-kali menjadi serpihan tajam yang merobek nadi-nadi di dalamnya?
Tapi, apakah aku terlalu bodoh untuk terus berharap akan dirimu? Rasanya memang tidak mungkin. 
Atau, mungkin kamu tahu tentang ini, tapi kamu mengujiku tentang seberapa lama ini bertahan? Ya?
Mungkin cambuk karma sedang ada padaku... Ah, karma...
Aku ingin menyayangimu, tapi menyayangimu tidak membuatku bahagia. Hanya bayangan hitam yang muncul selama siang hingga senja hingga menjelang malam setelah itu hilang. Begitukah?
Sampai kapan ini?
Dan perasaan ini masih bertahan. Entah sampai kapan. Sudah layak dan sepantasnya...
Ingatlah aku yang pernah menyayangimu

Salam
Orang yang tidak pernah berhenti menatapmu sedari dulu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar