Kamis, 07 Februari 2013

Refleksi Pecundang


JOHN!! PENGECUT KAU!!!
Itu. Masih teringat benar logat heroik Romo saat memperagakan percakapan itu. Tapi, tak akan membahas itu.
Setiap pagi dia datang yang pertama. Setelah menaruh barangnya dia mulai membuka buku, berimajinasi dan menunggu langkah kaki itu.
Langkah kaki sepatu Piero yang selalu dihafalkannya. Hanya langkah itu, yang lain tidak. Entah kenapa. Dan rupa-rupanya si anak bersepatu piero itu mengingatkannya pada masa-masa yang jauh. Masa-masa yang ngangeni. Tapi itu dulu.
Mengapa si anak bersepatu piero itu terasa istimewa bagi dia? Ya. Si anak bersepatu piero sering berbagi cerita cinta yang dipendamnya tapi tidak berani diungkapkan kecuali pada dia. Empunya cinta bukan malaikat yang mampu terus mengenggam cinta begitu erat. Manusia hanyalah makhluk yang tidak sempurna, mereka ditantang oleh rasa sabar.
Saat menatap matanya, dia mengingat seseorang yang pernah menggamit tangannya pagi itu sekolah. Tatapan matanya hampir sama dengan seseorang yang pernah menggamit tangannya. Kosong dan hampir hampa, seperti orang melamun tapi penuh harap.
Dia masih ingat benar cerita si anak bersepatu piero itu. Dan mungkin si anak bersepatu piero pernah berpikiran:
Aku menunggumu tahu, aku melihatmu berbicara dengan orang lain, tertawa dengan satu atau dua pria, tapi bukan kepadaku. Kenapa? Dan aku masih menjadi pengecut yang menggenggam daduku erat-erat.
Si anak bersepatu piero rupanya masih mengharapkan perempuan sebelahku. Lucu. Tapi dia takut akan dirinya, takut akan perasaanya dan dia terpaksa membohongi dirinya sendiri, membohongi perasaannya. Kasian.
Orang move on masih tetap single bahkan jomblo karena dia masih takut untuk jatuh cinta
 Benarkah pendapat itu? Entah. Tapi janganlah jadi seorang pengecut karena cinta yang masih buram dan semu. Yang masih belum tahu arah kedepannya kemana. Let it flow. Keep calm and carry on.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar