JOHN!! PENGECUT KAU!!!
Itu. Masih teringat benar logat heroik Romo
saat memperagakan percakapan itu. Tapi, tak akan membahas itu.
Setiap pagi dia datang yang pertama.
Setelah menaruh barangnya dia mulai membuka buku, berimajinasi dan menunggu
langkah kaki itu.
Langkah kaki sepatu Piero yang selalu
dihafalkannya. Hanya langkah itu, yang lain tidak. Entah kenapa. Dan
rupa-rupanya si anak bersepatu piero itu mengingatkannya pada masa-masa yang
jauh. Masa-masa yang ngangeni. Tapi itu dulu.
Mengapa si anak bersepatu piero itu terasa
istimewa bagi dia? Ya. Si anak bersepatu piero sering berbagi cerita cinta yang
dipendamnya tapi tidak berani diungkapkan kecuali pada dia. Empunya cinta bukan
malaikat yang mampu terus mengenggam cinta begitu erat. Manusia hanyalah makhluk
yang tidak sempurna, mereka ditantang oleh rasa sabar.
Saat menatap matanya, dia mengingat
seseorang yang pernah menggamit tangannya pagi itu sekolah. Tatapan matanya
hampir sama dengan seseorang yang pernah menggamit tangannya. Kosong dan hampir
hampa, seperti orang melamun tapi penuh harap.
Dia masih ingat benar cerita si anak bersepatu piero itu. Dan
mungkin si anak bersepatu piero pernah berpikiran:
Aku menunggumu tahu, aku melihatmu berbicara dengan orang lain, tertawa dengan satu atau dua pria, tapi bukan kepadaku. Kenapa? Dan aku masih menjadi pengecut yang menggenggam daduku erat-erat.
Si anak bersepatu piero rupanya masih
mengharapkan perempuan sebelahku. Lucu. Tapi dia takut akan dirinya, takut akan
perasaanya dan dia terpaksa membohongi dirinya sendiri, membohongi perasaannya.
Kasian.
Orang move on masih tetap single bahkan jomblo karena dia masih takut untuk jatuh cinta
Benarkah pendapat itu? Entah. Tapi janganlah jadi seorang pengecut karena cinta yang masih buram dan semu. Yang masih belum tahu arah kedepannya kemana. Let it flow. Keep calm and carry on.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar