“Jerseymu
masih dibawa Mbak Lasa. Udah jadi.”
“Ntar,
kalo ketemu aku bilang sendiri.”
Setelah
percakapan pendek, aku kembali berkutat dengan novelnya Sujiwo Tejo. Melanjutkan berjuta aksara yang dirangkai agar menjadi untaian
kata-kata yang indah. Jujur, tak mudah memahaminya. Maklum, sedang banyak
pikiran.
Aku
melihatmu tadi. Aku melihatnya
sendiri. Walau tak dengan sempurna mata, tapi aku tetap dapat merasa. Tak
kuungkapkan, tapi aku tahu. Kamu, anak bersepatu piero yang sudah dekat
denganku mulai Agustus tahun lalu. Kamu menyodorkan android lawasmu. Dan aku
mulai melihat isi didalamnya. Aku nggak kaget dengan tatananmu tadi pagi, tapi
kamu terlihat lebih rapi. Entah, mungkin untuk sang perempuan.
“Fotomu
yang ini bagus. Karismanya ada..”
Aku
dibawah, kamu diatas. Aku dibawah, kamu juga dibawah. Aku dibawah dan aku diam.
Mendekat akrab, sama seperti yang dilakukan dua orang yang berbeda terhadapku
dulu. Disebelahku, ada orang lain, yang bukan siapa-siapa tapi peduli. Akrab
juga, tapi tak seakrab dengan si anak bersepatu piero.
Aku
ditengah mereka berdua. Aku sedang memainkan android bersama empunya.
“Eh,
kamu yang buat tugas itu ya?” ada anak dari kelas lain menghampiriku.
“Iya,
kenapa?”
“Aku
minta softcopy-nya, aku belum buat. Nanti aku edit sendiri.”
“Sorry
bro, aku nggak berani. Itu aku buat bareng. Minta gitu aja enak ya?”
“Ayolah
plis! Kelompokku males semua...”
Aku tahu
dia, tapi nggak kenal secara dalam. Pacarnya kimcil kelas. Si anak bersepatu piero melihat dan nampaknya kaget
dengan apa yang dia lihat. Reaksiku. Biarlah, jika itu baik, kenapa tidak?
Kamu
masih bersanding disampingku. Dan aku masih memainkan androidmu. Aku tertarik
dengan ceritamu tentang perjalananmu dibumi yang dekat dengan awan. Kamu terus
saja memaksaku ikut. Jika kamu tahu kondisiku...
Whoops!
Ini ceritaku yang ketiga tentang dirimu. Dan diam-diam, ternyata ada orang yang
menatapmu malu-malu. Akankah kamu memberikan tatapan balik kepada orang itu?
Aku disini, tulus.
Semarang, 23:10.
Saya melihatnya sendiri, dulu-dulu…#NUMB
So tell me, how does it feel
How does it feel to be like you
I think your mouth should be quiet
Cause it never tell the truth
Tidak ada komentar:
Posting Komentar